Ikebana: Yang Perlu Kalian Ketahui Tentang Seni Merangkai Bunga Jepang


Seni merangkai bunga Jepang atau yang lebih dikenal dengan Ikebana, telah jauh berkembang dari yang awalnya sebagai persembahan kuil. Ini terjadi berabad-abad yang lalu. Saat ini, Ikebana telah menjadi seni yang populer dan inovatif. Seni ini unik di Jepang, dan sangat dihargai oleh para ahli maupun orang awam.


Apakah Itu Ikebana?

Ikebana (生 花) secara harfiah berarti bunga hidup. Ikebana telah digambarkan sebagai seni yang lebih halus, lebih sensitif, dan lebih canggih daripada metode merangkai bunga yang biasanya digunakan dalam budaya lain.

Sementara rangkaian bunga dalam budaya Barat terdiri dari merangkai tanaman berbunga secara simetris di dalam vas, Ikebana Jepang jauh lebih kompleks dari itu. Ikebana juga memiliki banyak gaya yang berbeda, tergantung pada sekolah, tanaman, serta vas yang digunakan.


Darimana Asal Ikebana?

Rangkaian bunga sederhana pertama kali dibuat pada awal abad ke-7. Ini terjadi ketika agama Buddha masuk ke Jepang melalui Tiongkok. Kala itu, merupakan kebiasaan untuk menempatkan bunga di depan gambar Buddha. Selama berabad-abad persembahan bunga ini mendapat bentuk yang cukup rumit.

Kemudian selama masa Heian (abad ke-8 hingga ke-12), adalah kebiasaan umum untuk mengirim puisi yang dilampirkan pada cabang berbunga sebagai bentuk kekaguman dan sentimen.

Lalu pada abad ke-14, para penguasa feodal yang memperoleh status dan supremasi ingin menunjukkan kekayaan dan kekuasaan mereka. Mereka membangun area dalam rumah atau istana mereka untuk menampilkan baju zirah. Namun, setelah penyatuan bangsa ditetapkan dan waktu damai tiba, benda-benda seni, termasuk rangkaian bunga juga mulai ditampilkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, muncullah Ikenobo, sekolah Ikebana tertua yang didirikan oleh pendeta Budha Ikenobo Senkei pada abad ke-15.


Aransemen dan Gaya Ikebana


1. Rikka


Ilustrasi flickr.com

Pada awalnya, dekorasi bunga Buddhisme dimaksudkan untuk melambangkan keindahan surgawi yang diidealkan. Sebagai akibatnya, mereka umumnya berornamen dan mewah. Atribut yang sama ini dipertahankan dalam gaya Ikebana pertama, Rikka. Gaya ini tidak terlalu bertujuan untuk mengungkapkan keindahan bunga, melainkan menggunakan bunga untuk mewujudkan konsep kosmos yang ditinggikan.

Aturan struktural Rikka memandu komposisi dasar dari gaya ini. Ada sembilan posisi kunci yang dikembangkan oleh para biksu Buddha, yang memasukkan ajaran Buddha ke dalam rangkaian bunga mereka. Sembilan posisi tersebut adalah.

  1. Shin: gunung spiritual
  2. Uke: menerima
  3. Hikae: menunggu
  4. Sho shin: air terjun
  5. Soe: cabang pembantu
  6. Nagashi: aliran
  7. Mikoshi: mengabaikan
  8. Do: tubuh
  9. Mae oki: tubuh depan

Ikebana menggunakan material tumbuhan yang datang dalam berbagai bentuk. Bergantung pada bahannya, penilaian artistik harus digunakan untuk menyesuaikan kembali bentuk yang telah ditetapkan. Dalam gaya Rikka, sembilan posisi harus dihormati. Namun, ini perlu dilakukan dengan pemahaman bahwa, di dalam struktur ini, ada ruang untuk ekspresi pribadi. Itulah rahasia Rikka.


2. Seika


Ilustrasi flickr.com

Pada akhir abad ke-18, interaksi antara Rikka dan Nageire memunculkan jenis rangkaian bunga baru yang disebut Seika. Seika secara harfiah berarti bunga hidup segar. Nageire sendiri sangat berbeda dengan Rikka.

Jika gaya Rikka dikaitkan dengan bentuk-bentuk Buddhisme yang lebih tradisional, maka gaya Nageire diasosiasikan terkait dengan Zen. Ini karena pengaturan Rikka tumbuh dari upaya untuk membayangkan alam semesta yang terorganisir, sementara Nageire mewakili upaya untuk mencapai kesatuan langsung dengan alam semesta.

Dalam gaya Seika, ada tiga posisi awal yang dipertahankan, yaitu shin, soe, dan uke (sekarang dikenal sebagai taisaki). Dalam aransemen Seika, ruang kosong baik di dalam susunan maupun di dalam kerangka tokonoma sangat penting.

Secara historis, aransemen Seika terdiri dari satu bahan, kecuali aransemen yang lebih mewah yang dibuat untuk perayaan Tahun Baru. Namun saat ini, pengaturan yang dibuat dari satu, dua bahkan tiga bahan sudah menjadi hal biasa.


3. Moribana


Ilustrasi flickr.com

Tokonoma, tempat dimana Ikebana secara tradisional ditampilkan, dianggap sebagai ruang sakral. Namun, ini tidak lagi termasuk dalam arsitektur moderen Jepang berbasis Barat.

Ruang terbuka saat ini mengharuskan Ikebana dilihat dari semua sisi (360 derajat), yang sangat berbeda dengan pendekatan Ikebana di masa lalu. Agar dihargai, Seika harus berada dalam tokonoma dan dilihat sambil duduk di lantai di depan penataan. Untuk kategori Moribana sendiri, berkembang sebagai cara untuk menciptakan kualitas yang lebih tiga dimensi, dengan menggunakan tumbuhan alami.


4. Ikebana Kontemporer


Ilustrasi artspace.id

Pengaruh modern telah menyebabkan penggunaan berbagai bahan yang sebelumnya tidak digunakan dalam konsep Ikebana klasik seperti Rikka dan Seika. Dalam hal ini, mungkin vas bunga unik yang dicat dapat menginspirasi seniman untuk menciptakan penataan yang menakjubkan. Jika bahan tanaman tidak digunakan, penataan ini dapat dianggap sebagai kontemporer.


Teknik Dasar Ikebana

Ikebana dapat diartikan sebagai bunga hidup. Seperti halnya semua makhluk hidup, setiap jenis tumbuhan memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Dan karakteristik utama yang perlu diperhatikan adalah apakah batang atau cabang tanaman rapuh atau lentur, sehingga dapat diputuskan teknik yang perlu digunakan.


Menggunakan Panas Untuk Menekuk Cabang

Banyak jenis tanaman memiliki getah yang berat yang menjadi lunak saat dipanaskan, dan keras kembali saat didinginkan. Untuk menekuk cabang ke bentuk yang diinginkan, letakkan bagian cabang yang ingin dibengkokkan di atas nyala lilin, sambil menekuknya perlahan ke sudut yang sesuai, lalu segera celupkan bagian yang dipanaskan ke dalam air dingin hingga benar-benar dingin.


Menggunakan Gunting Untuk Membuat Sudut Bengkok Tajam

Beberapa cabang seperti cabang maple atau bunga plum tidak dapat dibengkokkan dengan tajam, karena akan pecah menjadi dua. Untuk membuat lengkungan yang tajam dari bahan-bahan ini, gunakan gunting dan buat potongan sedalam setengah diameter dari cabang. Dengan berhati-hati, buka patahannya sehingga kulit bagian atasnya saling tumpang tindih. Rangkaian tikungan lembut ini akan menciptakan sudut yang diinginkan.


Menggunakan Penyangga Kawat

Bunga bertangkai cekung dapat dengan mudah diluruskan dengan kawat tipis. Cukup dorong kawat dengan perlahan ke atas, dari bagian bawah batang.


Menggunakan Kenzan

Kenzan adalah adalah platform logam berat dengan pin untuk mengamankan bunga. Ini merupakan alat Ikebana yang paling berguna dan tak tergantikan, baik untuk pemula, maupun Ikebanis tingkat lanjut. Sangat penting untuk mencuci dan membilas kenzan dengan baik setelah digunakan. Ini untuk menjaganya agar tetap dalam kondisi yang baik.

Supaya lebih mudah untuk dimasukkan ke kenzan dan juga lebih stabil, pangkal batang bunga perlu dipotong secara miring. Untuk batang yang lebih tebal, potong sebagian untuk membuat bagian bawahnya lebih tipis. Kemudian, gunakan kedua tangan untuk mendorong cabang secara paksa ke pin kenzan.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel